OPINI: Ramadan dan Logika Komoditas Media

Kerap atas nama menyemarakkan dan menambah kekhusyukan ibadah bulan Ramadan itulah, citra konsumtif di media—utamanya layar kaca—tampil maraton dan berulang-ulang. Tayangan-tayangan dengan citra ibadah di bulan Ramadan, intensitasnya terus meningkat dengan durasi dan frekuensi yang cukup besar.

Sebelum Ramadan bahkan, saat orang penasaran terhadap penetapan awal bulan Ramadan melalui sidang isbat, iklan dengan ragam bentuk mulai dari minuman, busana, hingga program-program dakwah sudah memenuhi layar kaca. Tayangan tersebut, tidak hanya menjelaskan gelagat bulan puasa yang sudah kian dekat, akan tetapi membangun imajinasi dan fantasi masyarakat terhadap sebuah produk tertentu.

Para penjaja produk, dengan model dan segmentasi yang berbeda-beda, terus menyuapi khalayak dengan simbolisasi ‘keperluan bulan puasa’. Logika komoditas ini mengintervensi sekaligus mengonstruksi ritualitas Ramadan, mulai busana, aksesori dan peribadatan lainnya melalui simbol-simbol.

Tayangan dengan citra Ramadan ini mengarah pada homogenitas budaya. Di mana masing-masing perilaku sosial dan yang melekat terhadap tubuh dan sosial pada saat Ramadan, kudu serupa dan mirip dengan budaya populer yang diciptakan media.

Seolah, jika masyarakat dalam menjalankan ritualitas Ramadan, termasuk juga ibadah, kurang ‘afdol’ kalau tidak buka puasa dengan produk minuman tertentu. Atau saat menjalankan ibadah tarawih dan menghadiri pengajian-pengajian harus mengikuti tren busana dengan mode dan pesona yang digunakan para talent di media.

Budaya PublikJika mengacu pada pendapat Horne (Yasraf, 2023) tentang budaya publik, media sebagai ruang (media space), mestinya menghadirkan berbagai budaya plural, yang mengkritisi dan membentuk kebudayaan yang dimiliki bersama (shared), dan semacam menjadi budaya bersama (common culture) dari berbagai elemen budaya berbeda tersebut.Televisi sebagai media menjadi ruang bagi terbentuknya budaya publik, dengan menghadirkan beragam perbedaan-perbedaan. Apalagi di tengah bulan Ramadan, bulan yang istimewa ini, mestinya juga mendorong lembaga penyiaran menghadirkan beragam hal yang bersinggungan dengan sisi penguatan spiritual dan sosial publik.

Nahasnya, budaya Ramadan di layar kaca lebih tertarik menghadirkan entitas homogenitas budaya yang di dalamnya kebablasan mengetengahkan kepentingan ekonomi belaka sebagai tulang punggung dari konten-konten atau program siaran di bulan Ramadan.

Sehingga Ramadan hanya dijadikan komoditas belaka untuk mengeruk cuan iklan. Kelatahan ini malah tampaknya, menjauhkan dari nilai-nilai luhur dari Ramadan. Pesona Ramadan dipasung ke dalam pernak-pernik konsumtif. Sehingga Ramadan tidak lebih dari sekadar keperluan lahiriah yang konsumtif belaka, yang jika disadari, berangkat dari kesadaran yang terkonstruksi citra belaka. Tayangan-tayangan di layar kaca perlu menghadirkan budaya plural yang lebih banyak.

Tidak hanya program siaran yang melanggengkan perangkat ekonomi di dalamnya, dengan mengeksploitasi Ramadan. Tetapi juga menghadirkan relasi sosial dan spiritualitas yang konstruktif dan reflektif bagi masyarakat.

Eksplorasi budaya Ramadan di Indonesia tidak hanya tentang busana, produk makanan dan minuman, atau sekadar komunikasi populer seperti yang terjadi melalui dakwah-dakwah dalam gelaran ajang bakat atau monolog—dialog ceramah. Tetapi juga berkaitan erat dengan peningkatan kapasitas sosial.

Hal ini tentu saja berangkat dari sosio-kultural masyarakat Indonesia yang beragam dari segi agama. Islam sebagai agama mayoritas, bukan ukuran yang valid untuk melegitimasi tayangan melulu bernuansa ‘islami’. Sebagai agama mayoritas penduduk Indonesia, melalui Ramadan inilah media harus menayangkan sisi humanis dan universal yang itu bisa juga dirasakan oleh seluruh warga Indonesia.

Kultur demikian nyatanya sudah mengakar panjang di masa lalu. Kita bisa melihat dari beragam peristiwa yang mengajarkan kebinekaan. Sumpah Pemuda, pun juga demikian adanya. Mengajarkan bagaimana yang mayoritas tidak perlu memaksakan kehendak terhadap yang minoritas. Termasuk juga bagaimana Islam hadir di Nusantara dengan wajah yang teduh inklusif. Sementara di sisi spiritual, hakikatnya Ramadan adalah panggung ibadah mementaskan umatnya memerankan kesabaran, ketabahan, dan memulangkan kerakusan (konsumtif) dalam ruang hening transenden. Maka Tuhan melipatgandakan segala jenis ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan.

Segala aktivitas baik bahkan bernilai pahala. puncak kemuliaan bahkan tersemat dalam bulan Ramadan yang kemudian kita kenal dengan malam lailatul qadar. Inilah yang kemudian dalam Menyikapi Pesona Dunia Ramadan (2023) disebut sebagai pesona dunia (enchantment of the world) Ramadan yang mendedahkan distingsi dan diferensiasi dibandingkan 11 bulan lainnya. 

Ahmad RiyadiAsisten Anggota KPI Pusat, Pegiat Akademi Literasi Ansor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *